Perjalanan Sang Ulin
Blogsphere: TechnoratiFeedsterBloglinesLintas Berita
Bookmark: Del.icio.usSpurlFurlSimpyBlinkDigg
RSS feed for comments on this post | TrackBack URI for this post
Krieett? brakk!! Tumbang lagi satu batang pohon ulin di atas tanah. Pohon kecil dibawahnya merintih kesakitan tertimpa bertanya pohon ulin yang baru menimpanya. Berusaha keras ia berdiri, namun tak ada daya. Perlahan namun pasti, napasnya berjalan semakin perlahan. Satu-satu. Akhirnya daun mudanya mulai melayu. Coklat. Mengering. Gugur satu demi satu. Matilah ia.
Sementara sang ulin pun lirih bersuara karena tubuhnya mulai terkuliti. Tubuhnya dicincang, dibelah, dan terbagi-bagi. Rrrrrngg?. suara mesin pembelah selalu berdenging disekitarnya. Satu persatu bagian tubuhnya mulai lepas menjadi balok-balok ulin.
Hari ini gilirannya tumbang. Kemarin paman, kakak dan ratusan saudara tuanya sudah tumbang dan terbelah. Sudah ratusan keluarganya ditumbangkan. Hari ini giliran dia. Esok mungkin giliran adiknya yang masih berdiri tegak menantang. Pinggangnya yang besar sangat menggoda untuk dibelah.
Tak lama ia sudah semakin mengecil. Dan terbelah-belah menjadi balok-balok. Tak sadar, tubuhnya serasa melayang. Ia diangkat ke atas sebuah kotak bermesin berwarna kuning. Ditumpuk potongan tubuhnya dengan rapih. Satu persatu. Hingga seluruh potongan tubuhnya berada di atas kotak bermesin itu.
Huh.. semakin gelap. Aduh mengapa buah pisang harus menindih tubuhnya yang sudah tak berdaya ini. Buah pisang hijau mulai menindih tubuhnya. Mengisi ruang kosong diatasnya. Hingga kotak bermesin ini semakin penuh dan tubuhnya tak lagi dapat terlihat. Dia tak dapat bernapas lagi.
Pandangannya semakin gelap. Perlahan ia merasa kotak bermesin mulai menderu. Bergoyang-goyang, kotak bermesin itu mulai berjalan. Ulin masih tak mengerti akan kemana dirinya. Semakin lama kotak bermesin itu semakin melaju. Ngeeng? tapi tiba-tiba? ciiitt? kotak bermesin itu berhenti.
Sesosok tangan menjulurkan kertas bergambar. Tangan lain berbaju coklat menyambut kertas bergambar itu. Lalu dengan cepat kertas bergambar itu pindah ke dalam saku baju coklat itu. Tangan kembali ke atas lingkaran. Dan kotak bermesin kembali meneruskan perjalanannya.
Ulin-ulin bergoyang seiring irama goyangan kotak bermesin di atas jalan yang tak pernah mulus. Lama bergoyang. Goyangan terhenti ketika di tepi jalan berdiri sesosok makhluk menyeramkan di samping sebuah kotak bermesin yang lebih kecil yang berwarna hijau bercorak.
Sesaat kotak bermesin kembali menjerit. Berhenti. Langkah tergesa penghuni kotak bermesin berlari menemui makhluk menyeramkan itu. Dari saku celananya ia ambil kembali kertas bergambar. Tangannya mendorongkan kertas bergambar pada makhluk menyeramkan. Kepala sang makhluk menoleh kiri-kanan. Senyum mengembang di bawah kumis tebalnya. Tangannya secepat kilat menyambut kertas bergambar. Dan seketika itu juga kertas bergambar telah lenyap ditelan saku celananya. Penghuni kotak kuning bermesin kembali ke singgasananya. Kotak bermesin kembali menderu, melaju, menerobos dinginnya udara malam.
Berkali-kali kotak kuning bermesin ini harus menjerit untuk berhenti. Dan seketika itu juga berkali-kali kertas bergambar berpindah dari saku satu ke saku lainnya. Berulang. Selalu berulang. Mungkin puluhan. Bahkan mungkin ratusan. Tapi tak sampai ribuan kali.
Tiba di tepi jembatan dekat pasar. Subuh masih menggantung. Sang Ulin yang telah terbelah mulai menghirup udara subuh. Pisang sudah diturunkan dari badannya. Sang ulin tersenyum. Membayangkan bahwa ia masih hidup. Ia masih bisa menghirup udara lagi.
Tak lama ia hirup udara kebebasan. Ia kembali melayang. Berpindah tempat. Rrrnngg?. Kembali ia mendengar suara yang sama ia dengar tadi malam. Dan ia menoleh. Tampaklah kakaknya yang kemarin sudah lebih dulu tumbang kembali dibelah-belah. Kakaknya semakin kecil, tapi lebih mulus. Ia terperangah. Akankah ia seperti itu? Ia bertanya-tanya. Akan diapakan lagi dirinya. Belum sempat terpikir. Terlihat kakaknya sudah kembali dibungkus dengan kotak besar. Rapih bak kado ulang tahun.
Dan di kejauhan ia kembali melihat sosok yang lebih menyeramkan. Berdasi. Tak berkumis. Bajunya lebih licin. Pakai baju tebal. Sementara disebelahnya makhluk bermata garis bernyanyi riang. Sambil menyerahkan sebungkus kertas bergambar pada makhluk disampingnya.
Kado tadi sudah hilang. Ternyata masuk dalam kotak bermesin. Entah kemana dia akan berjalan. Mungkin akan semakin jauh. Jauh dari tempat bermainnya dulu. Sementara sang ulin semakin berkunang-kunang. Pusing. Melelahkan perjalanan. Dan dia hanya akan jadi potongan kecil. Ia lelah. Ia capai. Ia ingin berontak. Tapi ia tak mampu berbuat.
Bahkan ribuan makhluk yang serupa dengan penghuni kotak bermesin. Yang katanya tak pernah terima kertas bergambar dari penghuni kotak bermesin. Yang katanya mencintai sang ulin. Tak mampu berbuat agar sang ulin tidak lagi dibelah. Saudara sang ulin tidak lagi tumbang. Dan anak cucu sang ulin masih bisa hidup. Tak ada yang mampu. Kecuali para makhluk menyeramkan tadi sudah terpuaskan nafsunya. Sudah terjejali perutnya. Dengan kertas bergambar yang menggunung. Dan ia berenang diatasnya. Hingga akhirnya ia tenggelam diantara kertas bergambar. Dalam ruang gelap. Dinding sempit. Tak berudara.
Sementara sang ulin hanya bisa pasrah. Meringis. Menangis. Merintih. Penuh harap.
Pangkajene, 4 April 2003 :: 13.07 wita







Wadah bamamay